Beranda · Menu · Menu 1 · Menu 2

ALUN-ALUN BANGIL



Ketika mendengar kata alun-alun, bayanganku adalah tempat yang sejuk dengan banyak pepohonan, bunga, tempat duduk yang nyaman dan banyak orang jualan di sekitarnya. Pastinya akan banyak orang yang datang, termasuk anak-anak yang akan bermain di taman alun-alun.
Namun, seketika bayangan itu lenyap ketika aku melihat alun-alun kota Bangil, sangat jauh berbeda dengan alun-alun di kota Malang. Tempatnya cukup gersang, hanya ada pepohonan besar, jarang ada bunga yang menghiasinya, apalagi taman bermain untuk anak.
Di alun-alun Bangil hanya terdapat lapangan yang luas untuk olah raga, pendopo dan gerbang depan alun-alun-alun yang nampak sedikit besar, sehingga akan terlihat langsung jika ada orang yang sekilas lewat.
Alun-alun Bangil mungkin lebih dimanfaatkan untuk tempat olahraga, upacara dan acara-acara penting yang membutuhkan tempat yang luas. Sedangkan di pinggiran alun-alun berjajar orang berjualan. Di malam hari biasanya dimanfaatkan oleh para remaja untuk cangkrukan.
Pada hari Minggu alun-alun Bangil cukup ramai, biasanya digunakan untuk lari-lari pagi untuk masyarakat di sekitar, sedangkan orang yang berjualan di daerah alun-alun seolah mengeruk rejeki dengan berkumpulnya banyak orang ketika hari Minggu. Para penjual makanan jumlahnya lebih banyak dibandingkan hari biasa.
Makanan yang dijual beraneka ragam, mulai dari es campur, ayam crispy, mie ayam, mie ceker, sate, cilok, kupang lontong, dan makanan yang kutemukan di hanya di Bangil tetapi tidak ada di kota lain adalah mie cilok. Seporsi hanya 3000, dengan satu mangkok penuh.
Saya biasanya suka makan mie cilok di alun-alun, dengan hanya 4000 saya sudah mendapatkan 1 porsi mie cilok dan 1 gelas es. Sangat murah dan tentunya sangat hemat. Jika ingin kenyang tapi murah, mungkin solusinya makan mie cilok ini.  
Alun-alun Bangil berlokasi di pusat kota dekat jalan raya besar, sebelah barat alun-alun ada masjid besar yaitu Masjid Jami. Masjid tersebut merupakan tempat beribadah masyarakat yang ada di sekitar alun-alun dan pendatang.
Walaupun alun-alun Bangil berbeda dengan alun-alun pada umumnya, saya sesekali tetap jalan-jalan ke alun-alun, setidaknya saya merindukan untuk kuliner di alun-alun, karena banyak sekali makanan dan jajanan di daerah sekitar alun-alun.

By: Zahara Putri
Bangil, 20 Desember 2015
14.18 wib




Artikel keren lainnya:

2 Tanggapan untuk "ALUN-ALUN BANGIL"

  1. Belum pernah ke Bangil, semoga ada kesempatan jalan-jalan ke sana. Tetap semangat ngeblog.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, ayo ke Bangil. Sekarang alun-alunnya da bagus.

      Hapus